Longsor Ancam 1.000 KK di Maninjau
Kebanyakan warga mendiami kawasan perbukitan yang terjal dan rawan.
Selasa, 10 November 2009, 12:06 WIB
Umi Kalsum
  (AP Photo/Irwin Fedriansyah)

VIVAnews - Setelah gempa pada akhir September lalu, sekitar 1.000 kepala keluarga di Nagari Tanjung Sani dan Bayur (kawasan Maninjau), Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dihadapkan pada masalah berat lainnya. Longsor kini mengancam kehidupan mereka.

Menurut Koordinator Pusat Pengendalian Operasi Bencana Sumbar Ade Edwar, kebanyakan warga mendiami kawasan perbukitan yang terjal dan rawan. "Pemerintah daerah diharapkan memperhatikan rekomendasi tim geologi yang menyatakan lokasi tersebut tidak layak untuk ditempati sehingga relokasi mesti dilakukan secepat mungkin," kata Ade Edwar pada VIVAnews, Selasa, 10 November 2009.

Daerah di kawasan seputaran Danau Maninjau ini dinyatakan rawan terhadap pergerakan tanah. Cuaca buruk yang terjadi satu minggu belakangan ini membuat lokasi-lokasi rawan longsor ini berpotensi besar menjadi kuburan massal.

Secara teknis, menurut Ade, pasca gempa 7,9 Skala Richter yang terjadi Rabu, 30 September 2009, sejumlah perbukitan di Sumbar
mengalami keretakan dan potensi longsor semakin besar saat memasuki musim hujan saat ini.

"Dalam kurun waktu enam bulan hingga satu tahun ke depan kondisi perbukitan ini belum tentu stabil," kata Ade yang merupakan ahli
geologi ini. Kondisi tersebut, menurutnya, mesti ditanggapi serius pemerintah dan warga yang mendiami daerah-daerah perbukitan.

Ade menekankan, pemerintah perlu menyediakan lokasi evakuasi sementara untuk menghindari bahaya longsor yang meningkat saat musim hujan. Menurutnya, saat ini pihaknya telah meminta pemerintah daerah untuk menyiagakan Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana tingkat kabupaten/kota untuk bersiaga.

Menurut informasi, warga Bayur di Kecamatan Tanjung Mutiara, Agam, pernah mengikuti transmigrasi ke Sitiung, Kabupaten Dharmasraya. Program ini gagal, karena masyarakat cenderung kembali ke Bayur dan memilih tinggal di lokasi yang diyakini tim geologi membahayakan nyawa mereka.

Laporan: Eri Naldi | Padang

• VIVAnews
 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.


BERITA NASIONAL TERPOPULER