|
|
(VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis) |
|
VIVAnews - Mantan Komandan Pusat Polisi Militer ABRI (TNI dan Polri) Syamsu Djalal mengkritik pengawasan yang ada di Kepolisian RI. Setelah dipisahnya Polri dari TNI, seolah tidak ada lagi pengawasan terhadap Polri.
Hal itu dikatakan Syamsu dalam jumpa pers di Hotel Nikko, Jakarta, Jumat malam, 20 November 2009. "Dulu sewaktu masa Kamtibmas (Keamanan Tertib Masyarakat) masih ada pengawasan dari Polisi Militer. Masyarakat masih bisa melapor. Tapi sekarang tidak ada lagi," kata dia.
Kurangnya pengawasan terhadap Polri, menurut Syamsu, makin terasa sewaktu terpisah dari TNI. "Mulai sejak Undang-Undang Kepolisian yang baru. Sehingga ada istilah TNI banyak tantangan, Polri banyak tentengan," ujarnya.
Berbagai permasalahan yang melibatkan Polri juga dicontohkan Syamsu sebagai bentuk tidak berjalannya pengawasan terhadap Polri. Misalnya, bisa dilihat dari adanya perseteruan Polri dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga penembakan sopir angkot saat berjudi di Depok.
Syamsu menilai, wajar jika masyarakat cenderung tidak percaya kepada Kepolisian. "Hingga ada yang bilang, yang banyak melakukan kejahatan itu Kepolisian," kata dia.
Saat ini, pengawasan di Polri dilakukan Divisi Profesi dan Pengamanan. Namun, pengawasan Polisi terhadap Polisi itu dianggap dirinya tidak efektif. "Di masyarakat pun ada istilah, masa Jeruk makan Jeruk. Pengawasan ini jelas tidak ada fungsinya," ujar Syamsul.
antique.putra@vivanews.com
• VIVAnews