Menurut jadwal, seharusnya diputar malam ini pukul 18.30 WIB, di Megaplex Grand Indonesia.
|
|
Adegan film Balibo (Balibo.com.au) |
|
VIVAnews - Jakarta International Film Festival atau JIFFest mengurungkan niatnya memutar film "Balibo Five" di Megaplex Grand Indonesia Minggu malam, 6 Desember 2009.
Berdasarkan pantauan VIVAnews, film "Balibo Five" yang menurut jadwal seharusnya diputar pukul 18.30 WIB, batal dilakukan JIFFest karena adanya larangan dari pihak Lembaga Sensor Film (LSF).
Menurut salah seorang petugas yang berjaga di pintu masuk Megaplex, film tersebut akhirnya diganti film lain yang berjudul "50 Hundred Years". "Filmnya (Balibo Five) nggak jadi diputar, karena dilarang LSF," kata dia yang enggan memberitahukan namanya.
Seperti diketahui, pemerintah Indonesia menyatakan agar tidak melihat film "Balibo Five" dari satu sisi saja. Hasil investigasi Pemerintah Australia berkaitan meninggalnya lima wartawan Australia menyebutkan, kelimanya tewas terjebak dalam peperangan Balibo 1975.
"Invetigasi Pemerintah Australia menyatakan menyatakan demikian," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI Teuku Faizasyah di Jakarta, Jumat, 4 Desember 2009.
Faizasyah menyatakan, dalam peperangan di bekas bagian negara Indonesia yang kini bernama Timur Leste, korban bukan saja jurnalis Australia tetapi juga TNI dan warga setempat. "Itu tragedi kemanusiaan. Jurnalis yang meliput peperangan memiliki kode etik dan ada risiko yang harus diterima," katanya.
Faizasyah lalu mencontohkan seorang jurnalis Indonesia yang bekerja pada kantor berita Associated Press juga menjadi korban dalam peperangan di Afganistan.
antique.putra@vivanews.com
• VIVAnews