VIVAnews - Video kekerasan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta beredar. Kini, Kementerian Perhubungan yang membawahi STIP sudah melakukan perubahan sistem di STIP Jakarta. Termasuk pemasangan kamera CCTV di lorong-lorong tempat berlangsungnya kekerasan.
"Sekarang di lorong-lorong itu dipasangi CCTV sejak 2008. Itu untuk mengawasi lorong-lorong itu," kata juru bicara Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan kepada VIVAnews, Selasa 9 Februari 2010.
Bambang menjelaskan, lorong-lorong itu dipasangi CCTV karena kerap terjadi kekerasan di lokasi itu. Terakhir, dalam video yang beredar dua korban yang diketahui bernama Manurung Hutagalung dan Manuputty juga 'dibantai' di lokasi itu.
Menurut Bambang, pelaku dan korban dalam video kekerasan yang direkam pada 2006 itu sudah lulus. Semua sudah diwisuda. Tidak ada tindakan dari sekolah karena tidak ada laporan yang masuk.
"Biasanya kekerasan itu terjadi tengah malam. Dalihnya, acara pembinaan. Tapi saat ini semua sudah tidak ada," ujar dia. Bambang mempertegas pelaku dalam kekerasan itu adalah dari unsur Polisi Siswa.
"Tetapi saat ini Polisi Siswa sudah tidak ada lagi dan diganti dengan Pembina Taruna. Pembina Taruna sekelas instruktur atau pengajar, bukan dari siswa," tegas dia.
Selain pemasangan cctv dan menghilangkan Polisi Siswa, STIP juga sudah melakukan perubahan lain. Saat ini, asrama tidak lagi diperuntukkan bagi Taruna senior.
Asrama hanya disediakan bagi taruna tingkat I dan II. Atau sampai dengan semester tiga. "Itu untuk menjaga jarak antara junior dengan senior dan menghindari kontak fisik," kata Bambang.
Seperti diketahui, dalam gambar rekaman terlihat tiga mahasiswa junior STIP Jakarta menjadi bulan-bulanan pemukulan seniornya di sebuah lorong sekolah. Dua di antaranya mengalami luka di wajah dan bibir hingga berdarah.
Kekerasan ini terekam dalam sebuah video amatir yang beredar. Video ini memperlihatkan sejumlah taruna junior dibariskan di sebuah lorong. Mereka kemudian ditempeleng dan dipukul.
Tampak seorang senior memegang kepala junior, sementara senior lainnya menampar wajah sang junior. Tak lama bibir junior berdarah dan menetes di telapak tangannya.
ismoko.widjaya@vivanews.com
• VIVAnews