VIVAnews - Buronan Dulmatin yang ditembak hingga tewas kemarin diduga sudah setahun menetap di Pamulang, Tangerang Selatan. Dulmatin diduga menempati sebuah rumah petak di Jalan Salak V RT 4 RW 4 Pabuaran, Pondok Benda, Pamulang.
"Ngakunya bernama Ibrahim," kata Sinurat (50 tahun), salah seorang tetangga Dulmatin. "Sudah tinggal di sini hampir setahun tapi dua minggu sebelum penggerebekan, dia pergi, mengaku mau pulang ke Lampung," ujar Sinurat, Rabu 10 Maret 2010.
Ibrahim alias Dulmatin mengaku tinggal bersama istrinya yang bercadar. Terdapat satu anak berumur dua tahunan bersama mereka. Istrinya, kata Sinurat, "tak pernah bersosialisasi."
Sinurat mengetahui Ibrahim sebagai Dulmatin setelah menonton di televisi. Pria yang ditemukan tewas di warnet Multiplus itu dikenalnya sebagai Ibrahim.
Rumah petak yang ditempati Dulmatin merupakan satu dari empat rumah petak yang berjejer. Dulmatin menempati salah satu rumah bermodel studio yang di tengah. Rumah ini disewa seharga Rp 350 ribu perbulan.
Maisaroh, yang menempati rumah persis di sebelah yang ditempati Dulmatin, menyebut pria berkumis tipis itu jarang berada di rumah pada siang hari. Dia sering pulang tengah malam, diantar dua orang pria, mengendarai sepeda motor atau mobil. "Mobil yang mengantar gonta-ganti," kata Maisaroh.
Dulmatin diduga adalah Yahya Ibrahim yang ditembak hingga tewas di warung internet Multiplus, lima kilometer dari rumah kontrakan ini. Kepastian Yahya Ibrahim adalah Dulmatin diketahui dari tes DNA.
Dulmatin merupakan buronan internasional, dengan hadiah US$ 10 juta untuk yang berhasil menangkapnya dari pemerintah Amerika Serikat. Dulmatin dicari karena perannya sebagai perancang Bom Bali I yang menewaskan 202 orang pada tahun 2002 lalu.