Pemberlakuan Zero Deferestation
Greenpeace Desak Negara ASEAN
zero deforestation" adalah upaya menurunkan tingkat laju deforestasi hingga ke titik nol
Senin, 2 Maret 2009, 11:26 WIB
Amril Amarullah
  (Greenpeace/ FB Anggoro)

VIVAnews - LSM lingkungan hidup Greenpeace mendesak para pemimpin negara-negara Asia Tenggara yang telah bertemu dalam KTT Ke-14 ASEAN di Thailand untuk menyetujui "zero deforestation".

Menurut Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar, dalam keterangan tertulisnya "zero deforestation" adalah upaya menurunkan tingkat laju deforestasi hingga ke titik nol di ASEAN pada tahun 2020.

Untuk itu, Greenpeace juga menuntut agar para pemimpin negara di kawasan Asia Tenggara tersebut untuk segera menyatakan kebijakan moratorium deforestasi di negaranya masing-masing.

Bustar memaparkan, deforestasi global bertanggung jawab atas sekitar 20 persen emisi gas rumah kaca sehingga menghentikan gerakan tersebut merupakan hal yang mendesak. Ia juga mengharapkan dukungan ASEAN terhadap seruan Greenpeace agar sejumlah negara industri memberikan sekitar 30 miliar euro per tahun.

Selain itu, lanjutnya, Mekanisme Pengurangan Emisi dari Deforestasi di Negara-negara Berkembang (REDD) harus disepakati untuk memastikan perlindungan keanekaragaman hayati dan memasukkan pengakuan hak masyarakat adat.

Mekanisme tersebut juga tidak akan memberikan kesempatan bagi emisi industri serta terkait dengan pembiayaan nasional untuk mencapai "zero deforesatation" di negara-negara berkembang pada 2020.

"Pada dasarnya mekanisme ini menawarkan pembiayaan yang berkaitan dengan pasar, yang cara kerjanya akan mempertemukan tujuan iklim dan keanekaragaman hayati dan memberi kesempatan bagi semua negara-negara berkembang yang mengalami deforestasi untuk berpartisipasi sesuai kemampuannya," kata Bustar.

Sementara itu, Manager Kampanye Greenpeace Asia Tenggara, Tara Buakamsri, mengatakan selama bertahun-tahun negara-negara ASEAN telah mengalami dampak dari perubahan iklim sehingga sangat penting bagi pemimpin kawasan tersebut untuk melindungi perekonomian masyarakat dari dampak bencana tersebut.

Sebelumnya, sejumlah aktivis Greenpeace juga melakukan aksi teatrikal di lokasi KTT Ke-14 ASEAN di Hua Hin, Thailand, untuk mengkritik para pemimpin negara Asia Tenggara karena tidak segera mengambil tindakan untuk melindungi 283 juta hektar hutan di wilayah ASEAN dan masyarakat yang bergantung padanya serta kekayaan keanekaragaman hayati yang saat ini terancam keberadaannya. (tv one)

• VIVAnews
 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.