Tim akan ke Singapura pekan depan untuk memverifikasi informasi tentang kematian David.
|
|
David Hartanto Widjaja (Facebook Christov Wiloto) |
|
VIVAnews - Kematian mahasiswa Universitas Teknologi Nanyang (NTU), David Hartanto Widjaja akan ditelusuri oleh sebuah tim verifikasi. Menurut salah satu anggota tim, Iwan Piliang tim akan ke Singapura pekan depan untuk memverifikasi informasi tentang kematian David.
"Jalan yang kita tempuh informal, sebab kalau formal seperti TVOne ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Singapura," kata Iwan Pilian dalam konferensi pers di sebuah restoran di Jalan Raden Saleh, Jakarta, Rabu 1 April 2009.
Menurut Iwan, tim verifikasi terdiri dari blogger, citizen reporter. "Ada 12 blogger dari seluruh Indonesia dan persatuan pewarta warga Indonesia," tambah Iwan. Di Singapura, kata Iwan, tim akan menemui saksi kunci yaitu teman-teman David dan orang-orang yang diduga mengetahui peristiwa kematian David, termasuk teriakan "they want to kill me!" yang didengar sejumlah saksi di tempat kejadian perkara.
"Motivasi kami adalah mencari tahu. Kami bukan tim investigasi namun tim verifikasi, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami ingin masyarakat dan para blogger memberi perhatian pada kasus ini," kata Iwan.
Ditambahkan dia, tim menyesalkan penolakan polisi atas laporan yang disampaikan keluarga David. "Mungkin semua pejabat saat ini sedang sibuk berkampanye sehingga kematian salah satu anak berprestasi tidak dipedulikan," kata dia.
Sampai saat ini belum ada informasi resmi dari kepolisian Singapura terkait penyebab kematian David pada 2 Maret 2009. Mereka hanya mengatakan, David tewas terjatuh dari gedung. Media Singapura lantas membuat berita bahwa David tewas bunuh diri usai menusuk profesornya, Chan Kap Luk. Juga diberitakan bahwa penyebab David bunuh diri adalah frustasi karena beasiswanya diputus.
Kematian David semakin misterius karena disusul kematian dua staf peneliti asal China, Zhou Zheng (24) dan Hu Kunlun. Ketiganya berasal dari Universitas yang sama. Keluarga mengaku tak yakin pemerintah Singapura bisa jujur mengusut kasus ini.
• VIVAnews