Densus 88 Polri Menangkap Orang Diduga Teroris
"Suami Saya Tinggalnya di Bumi Allah"
Sosok misterius yang menjadi menantu Baridin diduga sebagai Noordin M Top. Benarkah?
Jum'at, 26 Juni 2009, 07:25 WIB
Elin Yunita Kristanti
Foto Tersangka Teroris (VIVAnews/ Ismoko Widjaya)

VIVAnews - Detasemen Khusus 88 Antiteror Markas Besar Kepolisian menangkap beberapa  orang yang diduga terkait kasus terorisme di Jawa Tengah dan Lampung. Densus 88 juga mengejar pimpinan Pondok Pesantren Al-Muaddib Desa Pesuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap, Jawa Tengah yakni Baridin alias Bahrudin Latif.

Keluarga Baridin dikenal sangat tertutup. Bahkan, anak perempuannya Ariani Rahma pada 2006 menikah siri dengan sosok yang misterius, hingga dikaruniai dua anak. Spekulasi yang berkembang, sosok tersebut diduga sebagai Noordin M Top, buron kasus terorisme nomor satu di Asia Tenggara.

Tak hanya tetangga, keluarga Baridin juga tertutup pada kerabatnya sendiri. "Kami tidak pernah bertemu dengan suaminya, tidak kenal, aktivitasnya juga tidak tahu," kata keponakan Baridi, Gofur ketika ditemui di rumahnya di Desa Pesuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis 25 Juni 2009 malam.

Sebagai sepupu, Gofur pernah menegur Ariani Rahma soal sosok suaminya yang misterius. "Suami saya tinggalnya di bumi Allah," kata Gofur, menirukan jawaban Ariani.

Sebelum didatangi Densus 88, keluarga besar Baridin pergi ke Yogyakarta menggunakan lima mobil pada Sabtu 20 Juni 2009. Kepada kerabat, mereka mengaku menghadiri pernikahan saudara di daerah Mantri Jeron, Yogyakarta.

Sebelum pergi, Baridin sempat berpamitan dengan ayah Gofur yang merupakan kakak iparnya, Warsum. "Mas Warsum, setelah ke hajatan, saya tidak pulang ke Cilacap. Anak-anak kan sedang liburan. sekalian," kata Gofur, menirukan perkataan Baridin.

Saat Densus mendatangi rumah Baridin, rumah tersebut dalam keadaan kosong. Densus lalu membawa Warsum dan  pengurus pondok pesantren, Muhamad Irfan ke Yogyakarta untuk menunjukan alamat rumah yang dituju Baridin dan keluarga. Namun, hasilnya nihil, keluarga  Baridin telah hengkang.

Sebelumnya, warga yang tinggal berdekatan dengan tempat tinggal Baridin juga mengaku tak mengenal sosok misterius yang menjadi mantu Baridin.

Jika berkunjung ke rumah Baridin, si menantu datang menggunakan motor, menggunakan helm, dan jaket tertutup. "Datangnya selalu malam. Pulangnya, dari dalam rumah sudah memakai helm," kata Ketua RT 8, Aris.

Sebelum menyisir rumah Baridin, Densus 88 menangkap keponakan Baridi, SZ atau Saefudin Zuhri di Desa Nusawungu, Cilacap, yang menurut informasi diduga berperan sebagai penyuplai senjata.

Sebelumnya, Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Susno Duadji membenarkan penangkapan yang dilakukan Densus 88. Susno menyampaikan tak semua yang dibawa Densus 88 adalah laki-laki. "Kalau yang diperiksa mereka [Densus 88], ada laki-laki, ada perempuan," kata dia di Markas Besar Kepolisian, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Kamis 25 Juni 2009.

Susno, buru-buru meminta masyarakat tak serta-merta mencap orang-orang yang dibawa dan diperiksa Densus 88 sebagai teroris. "Mereka belum tentu teroris," tambah dia. Sebelumnya, Susno mengatakan bisa jadi orang-orang yang diperiksa Densus 88 di tempat rahasia adalah saksi atau yang mengetahui di mana keberadaan teroris.

Baca Juga: "Kami Tak Tahu Apakah Dia Noordin M Top"

Laporan: Robbi Sofwan Amin | Cilacap

• VIVAnews
 
komentar
koming
23/07/2009
Nurdin M-Top harus ditangkap, beserta keluarganya! mustahil kalo keluarganya/istrinya tidak tau kalo dia itu teroris,! untuk pengebom di kuningan jakarta, sepertinya sebelum mereka meledakan diri, otak mereka dicuci dan kemungkinan darah mereka dicampur sesuatu, sehingga saat tes DNA, dan dicocokan dengan darah keluarganya tidak cocok, sehingga juga membuat kepolisian bingung! para gembong teroris pasti sudah menyiapkannya jauh hari! tapi saya yakin polisi pasti bisa mengungkap semua ini!
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.