|
VIVAnews - Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap beberapa orang yang diduga terkait kasus terorisme di Jawa Tengah dan Lampung pada Minggu 21 Juni 2009. Ditanya perkembangan pemeriksaan, Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Susno Duadji mengatakan beberapa diantaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka.
"Ya, enam tersangka," kata Susno usai Salat Jumat di Markas Besar Kepolisian, Jalan Trunojoyo, Jumat 26 Juni 2009. Namun, Susno tak membeberkan siapa saja nama-nama yang sudah naik status jadi tersangka.
Namun, sumber kepolisian mengatakan enam orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka adalah Husaini Ismail, istri Husaini, seorang Anak Husaini, Samad alias Syamsul, dan Amad Kastari. Kelimanya adalah warga negara Singapura.
Sedangkan satu tersangka lain, menurut sumber, atas nama Saefudin Zuhri, warga Desa Nusawungu, Cilacap, Jawa Tengah.
Terkait soal para WNA Singapura, Susno mengaku penangkapan mereka bukan hanya atas dasar red notice atau daftar buron internasional. "Kami punya informasi sendiri," kata Susno.
Ditambahkan dia, penyidik Polri akan menyelidiki status kewarganegaraan mereka, apakah benar warga negara Singapura. "Soal penyerahan dan sebagainya tergantung kewarganegaraan mereka. Ada tata caranya, mereka harus lewat Departemen Luar Negeri," tambah dia.
Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri Singapura, seperti dimuat laman The Straits Times hari ini, mengatakan bahwa pihak berwajib di Indonesia telah mengkonfirmasi bahwa dua orang yang ditangkap Densus 88 adalah benar Husaini Ismail dan Samad Subari, yang merupakan buron kasus terorisme Singapura.
Departemen Pertahanan Singapura mengaku beberapa minggu yang lalu telah menyerahkan informasi detil tentang Husaini dan Samad, termasuk sidik jari, dan hasil investigasi terakhir yang dilakukan Kepolisian Singapura.
Husaini diduga terlibat dalam rencana aksi teroris di Bandara Changi, Singapura pada 2002 bersama Mas Selamat Kastari yang ditangkap Kepolisian Malaysia di Johor, Malaysia pada 1 April 2009.
Kastari Cs dituding terlibat dalam berbagai kasus teror terhadap sejumlah gedung pemerintah di Singapura pada 2001.
Kastari juga dituding terlibat dalam rencana pembajakan pesawat yang akan ditabrakkan ke bandara internasional Singapura Changi. Rencana yang belum sempat diwujudkannya itu diduga sebagai reaksi balas dendam atas penangkapan anggota-anggota JI di Asia Tenggara.
• VIVAnews