Pemred Sinar Harapan mengutuk keras tindakan kekerasan terhadap wartawatinya.
|
|
Demo Wartawan (VIVAnews/Tri Saputro) |
|
VIVAnews - Wartawan Sinar Harapan, Ode Data Julia Vanduk, menjadi korban kekerasan kader Demokrat saat akan meliput rangkaian kampanye cawapres Boediono di Jayapura, Papua, Jumat 26 Juni 2009. Penganiayaan pada Julia menuai protes kalangan pers, termasuk di Jakarta.
Sekitar 100 wartawan yang tergabung dalam solidaritas untuk wartawan Sinar Harapan, Odeo Data Hermina Junia melakukan aksi di depan gedung Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Rawamangun, Jakarta sejak pukul 10.45 hingga 12.30 WIB.
Massa menuntut ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Hadi Utomo untuk meminta maaf secara terbuka di media massa seluruh Indonesia.
"Jika tuntutan diatas tidak segera ditindaklanjuti kami menyerukan kepada seluruh wartawan di Indonesia untuk tidak meliput seluruh kegiatan kampanye SBY-Boediono," ujar Ketua Umum Poros Wartawan Jakarta, Widhi Wahyu Widodo kepada wartawan di kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Sabtu 27 Juni 2009.
Dalam aksinya, mereka juga mengumpulkan kartu pers sebagai bentuk solidaritas wartawan dan melakukan pembakaran bendera Partai Demokrat.
Pemimpin Redaksi Harian Sinar Harapan, Kristanto Hartadi yang turut dalam aksi, mengutuk keras tindakan kekerasan terhadap wartawatinya. Menurutnya, tindakan tersebut sangat tidak pantas dilakukan dalam alam demokrasi yang menghormati dan menjamin kebebasan pers.
"Saya sangat menyayangkan kejadian ini. Hormati pekerjaan pers," tegasnya. Setelah beberapa jam melakukan orasinya, akhirnya perwakilan massa diterima oleh bagian kepala rumah tangga DPP Demokrat.
"Kami diterima oleh kepala rumah tangga Demokrat, namun mereka justru hanya mempertanyakan izin dari aksi kita. Kita tidak mau berdialog, kami hanya ingin upaya hukum," katanya. Aksi serupa akan terus dilakukan jika kasus tersebut belum mendapatkan tanggapan dari pengurus Pusat Partai Demokrat.
Sebelumnya, Juru Bicara tim kampanye SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng telah meminta maaf atas insiden kekerasan yang dilakukan kader Partai Demokrat. "Minta maaf atas perlakukan anggota kami, dan kami akan pecat dia bila memang terbukti bersalah," kata Rizal Malarangeng saat mendampingi wartawan menjalani pemeriksaan, Jumat 26 Juni 2009.
Namun demikian, Rizal meminta kepada wartawan untuk tidak melakukan aksi boikot terhadap rentetan kampanye Boediono selama di Jayapura, Papua. "Silahkan kalian menempuh jalur hukum, tetapi tolong tidak perlu ada aksi boikot karena akan merugikan kami nantinya," tambah dia.
• VIVAnews